Minggu, 24 April 2016

Manfaatkan Sumber Daya Alam Kampung Kaputren, Hajatan Kampung Bambu Meriah


MAJALENGKA (CT) – Komunitas konser kampung Jatitujuh bekerjasama dengan Masyarakat Desa Putri Dalem Kecamatan Jatitujuh mengadakan hajatan kampung bambu selama tiga hari 23-25 Juli 2015 yang bertempat di kampung Kaputren Desa Putridalem Kecamatan Jatitujuh.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh Bupati Majalengka yang diwakili oleh Asisten Pembangunan Pemerintah Kabupaten Majalengka H Iman Pramudya Subagja, Camat Jatitujuh Drs Yoyo beserta jajaran Muspika Kecamatan Jatitujuh. Ketua panitia kegiatan Yaya Sunarya yang juga menjabat Lurah kampung Kaputren mengatakan, tujuan diadakannya kegiatan tersebut yaitu ingin mewujudkan kampung kaputren sebagai kampung Bambu.

“Kami melihat sumber daya kampung kaputren yang berada di Desa Putridalem sebagai desa penghasil bambu yang cukup melimpah di Kabupaten Majalengka, tentunya ini modal berharga bagi kami,” ungkapnya Kamis (23/07).

Sementara itu Camat Jatitujuh Drs Yoyo mengajak kepada semua warga yang tinggal di Desa lainnya untuk bisa menggali potensi sumber daya alam yang terdapat di wilayah masing-masing. “Pemerintah mengajak kepada seluruh warga baik itu Pilangsari, Panyingkiran dan Randegan agar bisa memanfaatkan apa saja yang bisa digali untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut camat yang murah senyum ini menambahkan, dengan acara ini diharapkan menjadi gaung awal yang bisa menggema dan terdengar luas, sehingga lambat laun Kampung kaputren memang dikenal dan diakui sebagai kampung bambu yang memiliki identitas.

“Ini suatu kegiatan yang positif, terlebih ketika nanti bandara sudah berdiri, masyarakat luas ataupun turis pendatang bisa mengenal Kaputren dan Pendalem khususnya serta bisa mengangkat nama Jatitujuh sebagai kampung Bambu,” imbuhnya.

Sementara itu Asisten Pembangunan H Iman Pramudya Subagja ketika ditemui seusai acara mengatakan pemerintah mendukung penuh dengan kegiatan seperti ini, ia berharap dengan akan diterapkannya MEA, masyarakat bisa ikut aktif berperanserta.

“Saya sudah menghimbau kepada SKPD yang terkait untuk memprogramkan dan memasukan anggaran yang dialokasikan, itu sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat,” ujarnya.

Iman Juga mengajak kepada masyarakat untuk membuka komunikasi dengan pemerintah terkait program-program yang bisa membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Petani bambu kan kalau menjual bambu langsung paling Cuma dapat berapa, tetapi setelah diolah dan dijadikan kerajinan seperti ini akan mempunyai nilai jual tinggi, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk di ekspor keluar negeri,” tambahnya.

Komunitas Konser kampung Jatitujuh sendiri merupakan komunitas yang telah lama hadir di Jatitujuh dengan membangun eksistensinya di wilayah seni dan Budaya. (Abduh)

Anak Muda Kaputren Ciptakan Semua Alat Musik dari Bambu


Oleh: Tati Purnawati 22 November, 2015 - 15:24
MAJALENGKA,(PRLM).- Ada hal unik yang dilakukan oleh kelompok anak muda yang menamakan diri Komunitas Kampung Bambu, di Dusun Kaputren, Desa Putridalem, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka. Mereka mampu membuat alat musik gitar, drum, saron, gambang, biola dan saron yang kesemuanya terbuat dari bambu bitung.

Bila dimainkan semua alat musik yang kesemuanya terbuat dari bambu tersebut tak kalah menarik dengan alat musik gitar atau drum pada umunnya. Dan semua alat musik tersebut bisa mengiringi semua jenis lagu baik pop, dangdut, rok ataupun keroncong atau jenis musik lainnya.

Asep adalah pencipta alat musik serba bambu tersebut, dia mengaku mulai terilhami untuk membuat alat musik tersebut sekitar tiga bulan yang lalu, mencoba memanfaatkan bambu yang cukup banyak di sekitar rumahnya.

“Berawal dari coba-coba karena banyak alat musik yang berasal dari bambu dan mengeluarkan suara yang indah seperti halnya calung, angklung, toleot, suling atau alat musik lainnya. Kebetulan di sekitar rumah banyak bambu bitung saya mencoba membuat alat musik yang banyak dipergunakan saat ini untuk mengiringi lagu pop atau lagu lainnya,” kata Asep.

Dia kemudian mencoba menebang bambu berukuran besar dan dia rangai menjadi sebuah guitar dan drum dan hasilnya ternyata tak kalah bagus dengan gitar atau drum buatan pabrik. Bahkan menurutnya gitar bambu buatannya bisa lebih kuat karena sebagian direndam terlebih dulu selama dua bulanan.

Untuk membuat satu set drum butuh waktu hingga satu bulanan, sedangkan gitar butuh waktu seminggu hingga mampu mengeluarkan suara yang nyaring dan bersih seperti halnya gitar pada umumnya.

“Baru satu set alat musik yang kami buat, yakni satu gitar, bass, drum, biola, gambang dan saron, namun ini sudah berulang kali kami coba mainkan di kampung kami,” ungkap Asep.

Asep sendiri adalah seniman musik yang semula bergambung di grup Konser Kampung, Desa Jatitujuh, Kecamatan Jatitujuh, sebuah seni kontemporer yang juga kerap memainkan beberapa alat musik dari bambu. “Di Konser Kampung sedang istirahat dari kegiatan sehingga saya berupaya mencoba membuat alat musik bambu ini.” ujar Asep.

Saat ini Asep dan temannya Jamaludin pemain gitar, Faris pemain drum serta 7 temannya terus berupaya berlatih memainkan alat musik tersebut dengan harapan kedepan mereka bisa menjadi seniman besar dan dikenal banyak orang karena keunikannya. Latihan yang mereka lakukan hampir tiap hari sekaligus mempersiapkann pameran nanti di Bangka Belitung atas undangan temannya di sana.

“Kami akan berangkat ke Bangka Belitung untuk ikut pameran di sana, kami mendapat undangan dari teman di sana. Mudah-mudahan dengan keberangkatan kami kesana bisa membuka jalan bagi kami untuk bisa eksis membuat alat musik ini lebih banyak,” kata Jamaludin.(Tati Purnawati/A-147)***